Sunday, 4 February 2018

Terapi Panas Dingin




1.    Pengertian Terapi
Terapi adalah suatu proses berjangka panjang berkenaan dengan rekonstruksi pribadi.Dalam kamus Bahasa Indonesia, definisi terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit. Tidak disebut ‘usaha medis’ dan juga tidak disebut menyembuhkan penyakit. Maka kita bisa paham bahwa terapi adalah lebih luas daripada sekadar pengobatan atau perawatan. Apa yang dapat memberi kesenangan, baik fisik maupun mental, pada seseorang yang sedang sakit dapat dianggap terapi.
  
2.    Macam-Macam Terapi

Terapi dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:
2.1        Terapi Panas
Terapi panas merupakan terapi dengan menggunakan panas. Pemberian panas  adalah memberikan rasa hangat pada bagian tubuh yang memerlukan, sedangkan kompres adalah salah satu metode fisik yang digunakan untuk menurunkan suhu tubuh bila anak demam yang sudah dikenal sejak zaman dulu. Kompres panas membantu meredakan sakit yang berhubungan dengan radang sendi dan otot kaku dengan mengurangi ketegangan dan melancarkan aliran darah.
Tujuan dilakukannya terapi panas pada tubuh bertujuan untuk meningkatkan perbaikan dan pemulihan jaringan. Bentuk kompres termal biasanya bergantung pada tujuannya. Kompres panas akan menghangatkan menghangatkan area tubuh tersebut. Kompres panas menghasilkan perubahan fisiologis suhu jaringan, ukuran pembuluh darah, tekanan darah kapiler, area permukaan kapiler untuk pertukaran cairan dan elektrolit, dan metabolisme jaringan.

A.         Contoh perantara terapi panas, yaitu :

        1.      Kendi
Antara lain terdapat kendi yang terbuat dari batu atau logam. Pada penggunaannya kendi ini diisi dengan air mendidih, namun pada kebanyakan hal tersebut sudah tidak dipergunakan lagi.  Yang sekarang digunakan adalah kendi yang dilebur padat, yang dapat diisi dengan air atau paraffin. Kendi ini dipanaskan sampai mencapai suhu 90C atau dipertahankan pada suhu tersebut dalam sebuah pemanas kendi.

2.      Kantung Air Panas
 Kantung air panas merupakan kantung karet dapat ditutup dengan sekrup diperlengkap dengan penutup karet / sebuah lempeng karet. Kantung diisi dengan air yang panasnya 80C. Air yang mendidih akan merusak kantung yang terbuat dari bahan karet. Kantung air panas diisi air panas sampai 1/3 penuh.

Peralatan yang diperlukan:
a.       Kantung air panas                       
b.      Air panas
c.       Kantung atau sarung flannel (misalnya sarung kecil)
d.      Handuk

Cara Kerja
a.       Periksalah keadaan kantung air panas
b.      Isi kantung air panas dengan sejumlah air panas yang dibutuhkan
c.       Hilangkan udara yang terdapat dalam kantung air panas dengan meletakkan kantung air panas secara mendatar, leher mulut kantung sedikit ditinggikan, turunkan perlahan hingga udara dalam kantung terdorong oleh air keluar.
d.      Tutup kantung dengan skrup penyumbatnya.
e.       Keringkan bagian luar dan dalam leher mulut kantung.
f.       Periksa kantung air panas bocor ataukah tidak.
g.      Pasang kantung/ sarung flannel untuk membungkus kantung air panas.
h.      Letakkan kantung itu pada kaki penderita / tempat lain yang diinginkan dan tidak boleh pada bagian tubuh yang telanjang.
i.        Pada penggunaan yang berlangsung lama, jangan sampai lupa memeriksa kulit penderita pada tempat diletakkannya kantung.

3.      Bantal Listrik
Bantal listrik jarang sekali dipergunakan. Misalkan saja seorang penderita membutuhkannya, maka hendaknya kita selalu mengingat hal-hal berikut ini:
a.       Sebelum kita memakainya, lebih dahulu harus ada periksaan apakah kawat, steker dan sakelarnya baik keadaannya.
b.      Panaskan bantal kecil pada kedudukan yang paling tinggi, kemudian biarkan terlebih dahulu menguap (di luar tempat tidur penderita).
c.       Selanjutnya pasanglah sakelar pada kedudukan arus listrik yang paling rendah, usahakan agar sakelar tidak sampai berada di bawah selimut penderita dan jaga pula agar tidak dapat bersentuhan dengan air.
d.      Harus diamati agar penderita tidak sampai mengubah kedudukan sakelar yang sudah ditetapkan tadi.

4.      Selimut Listrik
Cara penggunaan selimut listrik sama seperti penggunaan bantal listrik tadi, yaitu:
a.       Sebelum kita memakainya, lebih dahulu harus ada periksa apakah kawat, steker dan sakelarnya baik keadaannya.
b.      Panaskan bantal kecil pada kedudukan yang paling tinggi, kemudian biarkan terlebih dahulu menguap (di luar tempat tidur penderita).
c.       Selanjutnya pasanglah sakelar pada kedudukan arus listrik yang paling rendah, usahakan agar sakelar tidak sampai berada di bawah selimut penderita dan jaga pula agar tidak dapat bersentuhan dengan air.
d.      Harus diamati agar penderita tidak sampai mengubah kedudukan sakelar yang sudah ditetapkan tadi.

5.      Lampu Infra Merah
Lampu infra merah merupakan  sebuah sumber panas dengan sinar tertentu yang dipancarkan. Sinar infra merah dipancarkan pada tubuh panderita untuk memperoleh rasa hangat pada tubuhnya. (Bouwhuizen,W.1986:191-193).

B.        Keuntungan dan kerugian terapi panas
Terapi panas memiliki banyak keuntungan dan kerugian diantaranya :
1.      Keuntungan
a.       Memenuhi kebutuhan rasa nyaman pada klien
b.      Mudah dan Praktis
c.       Memberikan rasa hangat
d.      Mengurangi dan membebaskan rasa nyeri

2.      Kerugian
a.       Pada 24 jam pertama setelah cedera traumatik. Panas akan    meningkatkan perdarahan dan pembengkakan
b.      Peradarahan aktif. Panas akan menyebabkan vasodilatasi dan meningkatkan Perdarahan
c.       Edema noninflamasi. Panas meningkatkan permeabilitas kapiler dan edema.
d.      Tumor ganas terlokalisasi. Karena panas mempercepat metabolisme sel, pertumbuhan sel, dan meningkatkan sirkulasi, panas dapat, mempercepat metastase (tumor sekunder)
e.       Gangguan kulit yang menyebabkan kemerahan atau lepuh. Panas dapan membakar atau menyebabkan kerusakan kulit lebih jauh.

2.2        Terapi Dingin
Terapi dingin dikenal sebagai cryotherapy yang bekerja pada prinsip pertukaran panas. Hal ini terjadi ketika menempatkan objek pendingin dalam kontak langsung dengan objek suhu yang lebih hangat, seperti es terhadap kulit. Objek dingin akan menyerap panas dari objek yang lebih hangat. Setelah cedera, pembuluh darah akan memberikan oksigen dan nutrisi kepada sel-sel yang rusak. Sel-sel di sekitar cedera meningkatkan metabolisme dalam upaya mengkonsumsi lebih banyak oksigen.
Ketika seluruh oksigen digunakan, sel-sel akan mati serta pembuluh darah yang rusak tidak bisa membuang sampah. Sel darah dan cairan meresap ke dalam ruang di sekitar otot yang mengakibatkan pembengkakan dan memar. Saat es ditempelkan akan menyebabkan suhu jaringan yang rusak menurun melalui pertukaran panas dan menyempitkan pembuluh darah lokal. Hal ini memperlambat metabolisme dan konsumsi oksigen, sehingga mengurangi laju kerusakan. Proses tersebut menghentikan transfer impuls ke otak yang mendaftar sebagai nyeri. Kebanyakan terapis dan dokter menyarankan untuk tidak menggunakan terapi panas setelah cedera, karena hal ini akan memiliki efek sebaliknya dari terapi dingin. Panas meningkatkan aliran darah dan melemaskan otot-otot. Hal itu baik untuk meredakan ketegangan otot, tetapi hanya akan meningkatkan rasa sakit dan pembengkakan cedera dengan mempercepat metabolisme. Terapi dingin harus selalu digunakan sesegera mungkin setelah cedera terjadi. Terapi dingin dilakukan sekitar 15 hingga 20 menit selama 48 jam.
Tujuan dilakukannya terapi dingin adalah untuk mengurangi peradangan dengan cara mengerutkan atau mengecilkan pembuluh darah, mengurangi rasa sakit, mengurangi kejang otot, mengurangi kerusakan jaringan, mengurangi pembengkakakan, mengurangi pembentukan udema (Pembekuan darah di bawah kulit).

A.         Contoh perantara terapi dingin yaitu :

1.      Kantung Es dan Kerah Es
Kantung es adalah sebuah kantung karet yang tipis, yang ditutup dengan mempergunakan sebuah sumbat sekrup dan sebuah cincin karet atau sebuah lempeng karet. Hal yang sama berlaku juga bagi kerah es, hanya bentuknya saja yang berbeda dan ia dipergunakan khusus untuk leher.
Sebuah kantung es harus didinginkan kembali pada waktunya, yaitu sebelum es yang terakhir mencair. Berapa cepatnya es itu akan mencair, bergantung pada suhu penderita dan suhu sekitarnya. Sensasi ini dalam rangka adalah:
a.       Dingin ulit
b.      Merasa Burning
c.       Sakit
d.      Kekebasan

Peralatan yang diperlukan:
a.       Kantung es atau kerah es
b.      Potongan es yang kecil- kecil
c.       Peniti atau penusuk es
d.      Sarung kecil yang terbuat dari bahan flannel
e.       Handuk

Cara Kerja
a.       Sebelum dipergunakan, periksa dahulu keadaan kantung dan kerah es.
b.      Potongan es kecil- kecil dari lemari es, dimasukkan ke dalam baskom. Jika diperlukan potongan es yang lebih kecil lagi, kecilkan dengan menggunakan peniti atau penusuk.  Untuk mengerjakannya membutuhkan alas bersih. Jika terdapat ujung yang runcing, Tumpulkan dengan membilasnya di bawah pancuran, kemudian isi kantung es.
c.       Air yang berasal dari es mencair dan udara yang terdapat di dalam kantung es harus di keluarkan.
d.       Tutup kantung atau kerah es.
e.       Setelah bagian luarnya dikeringkan, periksa kantung es jika terjadi kebocoran. Kemudian masukkan kantung tersebut ke dalam sarung kecil yang terbuat dari bahan.

2.      Pijat Es
Es merupakan material dari teknik terapi dingin. Es adalah sebuah air bersih yang dimasukkan ke dalam wadah lalu dibekukan di dalam lemari es sampai benar-benar beku. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam teknik ini yaitu sedikit demi sedikit membuka es lalu pijatkan ke area yang sakit dengan menggunakan gerakan melingkar konstan. Jangan meletakkan es di satu daerah selama lebih dari 3 menit karena hal ini dapat menyebabkan radang dingin. Terapi dingin harus dihentikan setelah kulit terasa mati rasa.

Peralatan yang diperlukan
a.       Balok es berukuran kecil
b.      Peniti atau penusuk es
c.       Gelas dan sepotong kasa
d.      Piring kecil
e.       Sendok kecil

Cara Kerja
Dengan tangan bersih, letakkan balok es berukuran kecil di atas alas yang bersih lalu tusuk- tusuk sehingga butir es menjadi lebih kecil. Butir es dimasukkan ke dalam gelas yang diatasnya telah direntangkan sepotong kasa. Gelas dan sendok kecil diletakkan di piring kecil kemudian dibawa ke tempat penderita, dan sampaikan bahwa ia harus menelan butir- butir es secara utuh.
B.        Unsur – Unsur Pendingin
Unsur pendingin atau “cold packs” diperoleh dalam keadaan siap pakai, digunakan sebagai pengganti kantung es. Unsur- unsur tersebut harus didinginkan di lemari es dengan suhu (- 18C). Suhu diatas 60C harus dihindarkan. Letakkan cold packs pada tempat yang diinginkan, bungkus dengan kain flanel dan tidak boleh diletakkan diatas kulit telanjang. Setelah selesai dipakai, bersihkan unsur- unsur pendingin dengan air dan sabun. Dan perlu diingat bahwa unsur pendingin harus dihindarkan dari kerusakan oleh benda tajam.

C.         Keuntungan dan Kerugian Terapi Dingin
Terapi Dingin memiliki beberapa keuntungan dan kerugian diantaranya adalah :
      1.      Keuntungan
          a.       Alat dan bahan mudah ditemukan dan digunakan di rumah
          b.      Murah
          c.       Persiapan yang sedikit
          d.      Baik untuk luka ringan yang hanya memerlukan terapi dingin untuk satu samapi dua hari.

2.      Kerugian
          a.       Es sebagai bahan dari terapi dingin mudah jatuh serta sulit untuk menjaga es di tempat
          b.      Es cepat mencair dan dapat membuat berantakan terutama jika melakukan terapi dingin di tempat tidur.
c.        Es diterapkan pada permukaan sendi secara terbatas.
d.      Hanya dapat diterapkan untuk jangka waktu yang singkat (10-20 menit).
e.       Sulit digunakan untuk cedera yang lebih besar atau setelah operasi karena berbagai alasan.

Rujukan







BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Salah satu kelemahan pelayanan kesehatan adalah pelaksanaan rujukan yang kurang cepat dan tepat. Rujukan bukan suatu kekurangan, melainkan suatu tanggung jawab yang tinggi dan mendahulukan kebutuhan masyarakat. Kita ketahui bersama bahwa tingginya kematian ibu dan bayi merupakan masalah kesehatan yang dihadapi oleh bangsa kita. Masalah 3T (tiga terlambat) merupakan salah satu hal yang melatar belakangi tingginya kematian ibu dan anak, terutama terlambat mencapai fasilitas pelayanan kesehatan.
Dengan adanya system rujukan, diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu karena tindakan rujukan ditunjukan pada kasus yang tergolong berisiko tinggi. Oleh karena itu, kelancaran rujukan dapat menjadi faktor yang menentukan untuk menurunkan angka kematian ibu dan perinatal, terutama dalam mengatasi keterlambatan.
Bidan sebagai tenaga kesehatan harus memiliki kesiapan untuk merujuk ibu atau bayi ke fasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu jika menghadapi penyulit. Jika bidan lemah atau lalai dalam melakukannya, akan berakibat fatal bagi keselamatan ibu dan bayi.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Rujukan ?
2.      Apa saja Jenis-jenis dari system Rujukan ?
3.      Apa saja Tujuan dari Rujukan ?
4.      Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi Rujukan ?
5.      Apa saja Persiapan dari Rujukan ?
6.      Bagaimana Tata Laksana dari Rujukan ?
7.      Apa saja Kegiatan dari Rujukan ?
8.      Bagaimana Alur Rujukan ?
9.      Bagaimana Mekanisme dari Rujukan ?
10.    Apa saja Keuntungan dari Rujukan ?
11.    Apa saja Upaya dalam Peningkatan Mutu Rujukan ?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Rujukan
Rujukan adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau masalah kebidanan yang timbul baik secara vertikal (dan satu unit ke unit yang lebih lengkap / rumah sakit) untuk horizontal (dari satu bagian lain dalam satu unit). (Muchtar, 1977).
Rujukan adalah sesuatu yang digunakan pemberi informasi (pembicara) untuk menyokong atau memperkuat pernyataan dengan tegas. Rujukan mungkin menggunakan faktual ataupun non faktual. Rujukan faktual terdiri atas kesaksian, statistik contoh, dan obyek aktual. Rujukan dapat berwujud dalam bentuk bukti. Nilai-nilai, dan/atau kredibilitas. Sumber materi rujukan adalah tempat materi tersebut ditemukan (Wikipedia).
Sistem rujukan adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan yang melaksanakan pelimpahan wewenang atau tanggung jawab timbal balik, terhadap suatu kasus penyakit atau masalah kesehatan, secara vertikal dalam arti dari unit yang terkecil atau berkemampuan kurang kepada unit yang lebih mampu atau secara horisontal atau secara horizontal dalam arti antar unit-unit yang setingkat kemampuannya.
Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal-balik atas masalah yang timbul baik secara vertikal (komunikasi antara unit yang sederajat) maupun horizontal (komunikasi inti yang lebih tinggi ke unit yang lebih rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. (Kebidanan Komunitas: hal 207).
Rujukan Pelayanan Kebidanan adalah pelayanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan yang dilakukan oleh bidan ke tempat atau fasilitas pelayanan kesehatan atau fasilitas kesehatan lain secara horizontal maupun vertical. 


2.2  Jenis-jenis Sistem Rujukan
Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terbagi 2 yaitu :
1.      Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke puskesmas induk
2.      Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang pelayanan kesehatan, baik horizontal  (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).

Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terbagi dua yaitu :
1.      Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien puskesmas dengan penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus) ke rumah sakit umum daerah. Rujukan medic dapat diartikan sebagai pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik atas satu kasus yang timbul baik secara vertical maupun horizontal kepada yang lebih berwenangdan mampu menangani secara rasional. Jenis rujukan medic antara lain:
Ø  Transfer of patient. Konsultasi penderita untuk keperluaan diagnostic, pengobatan, tindakan opertif dan lain – lain.
Ø  Transfer of specimen. Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lenih lengkap.
Ø  Transfer of knowledge / personal. Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk meningkatkan mutu layanan setempat.
2.      Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan dengan upaya peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Contohnya, merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok gizi puskesmas), atau pasien dengan masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi puskesmas (pos Unit Kesehatan Kerja).

2.3  Tujuan dari Rujukan
Menurut Mochtar, 1998 Rujukan mempunyai berbagai macam tujuan antara lain :
Ø  Agar setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan sebaik-baiknya
Ø  Menjalin kerja sama dengan cara pengiriman penderita atau bahan laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap fasilitasnya
Ø  Menjalin perubahan pengetahuan dan ketrampilan (transfer of knowledge & skill) melalui pendidikan dan latihan antara pusat pendidikan dan daerah perifer
Sedangkan menurut Hatmoko, 2000 Sistem rujukan mempunyai tujuan umum dan khusus, antara lain :
Ø  Umum => Dihasilkannya pemerataan upaya pelayanan kesehatan yang didukung kualitas pelayanan yang optimal dalam rangka memecahkan masalah kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna.
Ø  Khusus => 1. Menghasilkan upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan rehabilitatif secara berhasil guna dan berdaya guna. 2. Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preveventif secara berhasil guna dan berdaya guna.

Rujukan memiliki beberapa tujuan, diantaranya adalah :
Ø  Setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan yang sebaik-baiknya.
Ø  Menjalin kerjasama dengan cara pengiriman penderita atau bahan laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap fasilitasnya.
Ø  Menjalin pelimpahan pengetahuan dan keterampilan (transfer of knowledge and skill) melalui pendidikan dan pelatihan antara pusat dan daerah.

2.4  Faktor-faktor yang mempengaruhi Rujukan
Ada beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya rujukan, yaitu apabila :
Ø  Riwayat seksio sesaria
Ø  Perdarahan pervaginam
Ø  Persalinan kurang bulan(usia kehamilan kurang dari 37 mgg)
Ø  Ketuban pecah dengan mekonium yang kental
Ø  Ketuban pecah lama (kurang lebih 24jam)
Ø  Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan
Ø  Ikterus
Ø  Anemia berat
Ø  Tanda /gejala infeksi
Ø  Preeklamisa/hipertensi dalam kehamilan
Ø  Tinggi fundus 40cm atau lebih
Ø  Gawat janin
Ø  Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin masih 5/5
Ø  Presentasi bukan belakang kepala
Ø  Kehamilan gemeli
Ø  Presentasi majemuk
Ø  Tali pusat menumbung

2.5  Persiapan dari Rujukan
Mempersiapkan rujukan ke rumah sakit dengan melakukan BAKSOKUDa yaitu:
Ø  B: Bidan Harus siap antar ibu ke rumah sakit;
Ø  A: Alat-alat yang akan di bawa saat perjalanan rujukan;
Ø  K: Kendaraan yang akan mengantar ibu ke Rumah Sakit;
Ø  S: Surat rujukan disertakan;
Ø  O: Obat-obat seperti oksitosin ampul, cairan infuse;
Ø  K: Keluarga harus diberitahu dan mendampingi ibu saat dirujuk;
Ø  U:Uang untuk pembiayaan di rumah sakit.
Ø  Da: Darah untuk tranfusi

2.6  Tata laksana Rujukan
Tata laksana rujukan terdiri dari, yaitu :
Ø  Internal antas-petugas di satu rumah
Ø  Antara puskesmas pembantu dan puskesmas
Ø  Antara masyarakat dan puskesmas
Ø  Antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya
Ø  Antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya
Ø  Internal antar-bagian/unit pelayanan di dalam satu rumah sakit
Ø  Antar rumah sakit, laboratoruim atau fasilitas pelayanan lain dari rumah sakit

2.7  Kegiatan dari Rujukan
Rujukan terdiri dari beberapa kegiatan, diantaranya adalah :
1.      Rujukan dan pelayanan kebidanan
Kegiatan ini antara lain berupa :
Ø  Pengiriman orang sakit dari unit kesehatan kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap
Ø  Rujukan kasus-kasus patologik pada kehamilan, persalinan dan nifas
Ø  Pengiriman kasus masalah reproduksi manusia lainnya, seperti kasus-kasus ginekologi atau kontrasepsi, yang memerlukan penanganan spesialis
Ø  Pengiriman bahan laboratorium
Ø  Bila penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai, kembalikan dan kirimkan lagi kepada unit semula, bilamana perlu disertai dengan keterangan yang lengkap (surat balasan)

2.      Rujukan kesehatan yang meliputi permintaan bantuan atas :
Ø  Kejadian luar biasa atau terjangkitnya penyakit menular
Ø  Terjadinya kelaparan dalam masyarakat
Ø  Terjadinya keracunan masal
Ø  Masalah lain yang menyangkut kesehatan masyarakat umum

3.      Rujukan informasi medis
Kegiatan ini antara lain berupa :
Ø  Membahas secara lengkap data-data medis penderita yang dikirim dan advis rehabilitas kepada unit yang mengirim
Ø  Menjalin kerjasama sistem pelaporan data-data medis umumnya dan data-data parameter pelayanan kebidanan khususnya terutama mengenai kematian maternal dan perinatal. Hal ini sangat berguna untuk memperoleh angka-angka secara regional dan nasional.

4.      Pelimpahan pengetahuan dan ketrampilan
Kegiatan ini antara lain berupa :
Ø  Pengiriman tenaga-tenaga ahli ke daerah perifer untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan melalui ceramah, konsultasi penderita, diskusi kasus, dan demonstrasi
Ø  Pengiriman petugas pelayanan kesehatan daerah untuk menambah pengetahuan dan keterampilan mereka ke rumah sakit yang lebih lengkap atau Rumah sakit pendidikan. Juga dengan mengundang tenaga medis dan paramedis dalam kegiatankegiatan ilmiah yang diselenggarakan tingkat propinsi atau institusi pendidikan 

5.      Pusat Rujukan Antara (Puskesmas dengan 10 tempat tidur)
Puskesmas yang diberi tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong penderita gawat darurat baik berupa tindakan operatif terbatas maupun perawatan sementara dengan 10 tempat tidur.

Kriteria Puskesmas terdiri dari :
Ø  Puskesmas terletak kurang lebih dari 20 km dari rumah sakit
Ø  Puskesmas mudah dicapai dengan kendaran bermotor dari puskesmas sekitarnya
Ø  Puskesmas dipimpin oleh dokter dan telah mempunyai tenaga yang memadai
Ø  Jumlah kunjungan puskesmas minimal 100 orang per hari rata-rata.
Ø  Puskesmas masih mempunyai tanah kososng seluas 20mx30m
Ø  Penduduk wilayah kerja puskesmas dan penduduk di kelilingnya minimal rata-rata 20.000/Puskesmas
Ø  Pemerintah daerah bersedia untuk menyediakan anggaran rutin yang memadai 

Fungsi dari Puskesmas adalah :
Ø  Merupakan “Pusat Rujukan Antara” melayani penderita gawat darurat sebelum dapat dibawa ke rumah sakit

Kegiatan dari Puskesmas adalah :
Ø  Melakukan tindakan opertaif terbatas terhadap penderita gawat darurat antara lain :
ü  Kecelakaan lalu lintas
ü  Persalinan dengan penyulit
ü  penyakit lain yang mendadak dan gawat
Ø  Merawat sementara penderita gawat darurat atau untuk observasi penderita dalam rangka diagnostik dengan rata-rata hari perawatan 3 hari atau maksimal 7 hari
Ø  Melakukan pertolongan sementara untuk mempersiapkan pengiriman penderita lebih lanjut ke Rumah sakit
Ø  Memberi pertolongan persalinan bagi kehamilan dengan resiko tinggi dan persalinan dengan penyulit
Ø  Melakukan metode operasi pria dan metode operasi wanita untuk keluarga berencana

Ruangan tambahan di Puskesmas, diantaranya adalah:
a.       Bangunan tambahan seluas 246 m2 diatas tanah seluas 600m2 terdiri dari :
Ø  Ruang rawat tinggal untuk 10 tempat tidur
Ø  Ruangan operasi
Ø  Ruangan persalinan
Ø  Kamar perawatan jaga
Ø  Ruangan post operatif
Ø  Kamar linen
Ø  Kamar cuci
Ø  Dapur

b.      Peralatan medis di Puskesmas diantaranya adalah :
Ø  Peralat operasi terbatas
Ø  Peealatan obstetri patologis
Ø  Peralatan resusitasi
Ø  Peralatan vasektomi dan tubektomi
Ø  10 tempat tidur lengkap dengan peralatan perawatan

c.       Tenaga di Puskesmas, diantaranya adalah :
Ø  Dokter kedua di puskesmas yang telah mendapatkan latihan klinis di Rumah Sakit 6 bulan dalam bidang : obstetri, gynekologi, pediatri dan interne
Ø  2 orang perawat yang telah dilatih selama 6 bulan dalam bidang perawatn bedah, kebidanan, pediatri dan penyakit dalam
Ø  3 orang perawat kesehatan/ perawat/ bidan yang diberi tugas secara bergilir
Ø  1 orang prakarya kesehatan

d.      Alat komunikasi di Puskesmas, diantaranya adalah :
Ø  Telepon atau radio komunikasi jarak sedang
Ø  1 buah ambulance

2.8  Alur Rujukan
Dalam rangka pelaksanaan rujukan diperhatikan hal-hal yang menyangkut tingkat kegawatan penderita, waktu dan jarak tempuh sarana yang dibutuhkan serta tingkat kemampuan tempat rujukan.
Dalam kaitan ini alur rujukan untuk kasus gawat darurat dapat dilaksanakan sebagai berikut :
1.      Dari kader
Kader dapat langsung merujuk ke :
Ø  Puskesmas pembantu atau pondok bersalin atau bidan di desa
Ø  Puskesmas atau puskesmas denga rawat inap
Ø  Rumah sakit pemerintah atau swasta
2.      Dari posyandu
Dari posyandu dapat langsung merujuk ke :
Ø  Puskesmas pembantu atau
Ø  Pondok bersalin atau bidan desa atau puskesmas atau puskesmas dengan rawat inap atau rumah sakit pemerintah yang terdekat
3.      Dari puskesmas pembantu
Dapat langsung merujuk ke rumah sakit kelas D/C atau rumah sakit swata
4.      Dari pondok bersalin
Dapat langsung ke rumah sakit kelas D/C atau rumah sakit swasta

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merujuk pasien :
Ø  Pada rujukan penderita gawat darurat, batas wilayah administrasi (geografis) dapat diabaikan karena yang penting adalah penderita dapat pertolongan yang cepat dan tepat
Ø  Sedangkan untuk penderita yang tidak termasuk gawat darurat dilaksanakan sesuai dengan prosedur rujukan yang biasa sesuai hierarki fasilitas pelayanan







2.9  Mekanisme Rujukan
Adapun mekanisme rujukan adalah:
a.       Menentukan kegawatdaruratan penderita, diantaranya adalah :
Ø  Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih
             Bila ditemukan penderita yang tidak dapat ditangani sendiri oleh keluarga/ kader/ dukun bayi, maka segera dirujuk kefasilitas pelayanan kesehatan terdekat, oleh karena mereka belum tentu dapat menetapkan tingkat kegawatdaruratan.
Ø  Pada tingkat Bidan di desa
Puskesmas pembantu dan puskesmas tenaga kesehatan yang ada pada fasilitas pelayanan kesehatan tersebut harus dapat menentukan tingkat kegawatandaruratan kasus yang ditemui. Sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya, mereka harus menentukan kasus yang boleh ditangani sendiri dan kasus yang harus dirujuk.

b.      Menentukan tempat tujuan rujukan
Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang mempunyai kewenangan dan terdekat. Termasuk fasilitas pelayanan swata dengan tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan penderita.

c.       Pemberian informasi kepada penderita dan keluarganya
Penderita dan keluarganya perlu diberi informasi tentang perlunya penderita segera dirujuk untuk mendapat pertolongan fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu

d.      Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju
Melalui telepon atau radio komunikasi disampaikan kepada tempat rujukan yang tujuannya untuk :
Ø  Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk
Ø  meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan selama dalam dalam perjalanan ke tempat tujuan
Ø  Meminta petunjuk cara penanganan untuk menolong penderita bila penderita tidak mungkin dikirim.

e.       Persiapan penderita
Ø  Sebelum dikirim, keadaan umum penderita harus diperbaiki terlebih dahulu. Keadaan umum perlu dipertahankan selama dalam perjalanan. Untuk itu obat-obatan yang diperlukan untuk mempertahankan keadaan umum perlu disertakan pada waktu pasien diangkut.
Ø  Surat rujukan perlu disiapkan dengan format rujukan
Ø  Dalam hal penderita gawat darurat maka seorang perawat/ bidan perlu mendampingi penderita dalam perjalanan untuk menjaga keadaan umum penderita

f.       Pengiriman penderita
Untuk mempercepat sampai ke tujuan, perlu diupayakan kendaraan/ sarana transportasi untuk mengangkut penderita 

g.      Tindak lanjut penderita
Ø  Untuk penderita yang telah dikembalikan, dan memerlukan tindak lanjut, dilakukan tindakan dengan sarana yang diberikan
Ø  Bagi penderita yang memerlukan tindak lanjut tapi tidak melapor, maka dilakukan kunjungan rumah.

2.10          Keuntungan System Rujukan
Keuntungan dari system rujukan, yaitu :
Ø  Pelayanan yang diberikan sedekat mungkin ke tempat pasien, berarti bahwa pertolongan dapat diberikan lebih cepat, murah, dan secara psikologi member rasa aman pada pasien dan keluarganya.
Ø  Dengan adanya penataran yang teratur diharapkan pengetahuan dan keterampilan petugas daerah makin meningkat sehingga semakin banyak kasus yang dapat dikelola di daerah masing-masing.
Ø  Masyarakat desa dapat menikmati tenaga ahli

2.11          Upaya Peningkatan Mutu Rujukan
Langkah-langkah dalam upaya meningkatkan mutu rujukan, yaitu  :
Ø  Meningkatkan mutu pelayanan di puskesmas dalam menampung rujukan puskesmas pembantu dan pos kesehatan lain dari masyarakat.
Ø  Mengadakan pusat rujukan antara lain dengan mengadakan ruangan tambahan untuk 10 tempat tidur perawatan penderita gawat darurat di lokasi strategis
Ø  Meningkatkan sarana komunikasi antar unit pelayanan kesehatan
Ø  Menyediakan Puskesmas keliling di setiap kecamatan dalam bentuk kendaraan roda 4 atau perahu bermotor yang dilengkapi alat komunikasi
Ø  Menyediakan sarana pencatatan dan pelaporan bagi sistem, baik rujukan medik maupun rujukan kesehatan
Ø  Meningkatkan upaya dana sehat masyarakat untuk menunjang pelayanan kesehatan
  


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sistem rujukan upaya kesehatan adalah suatu system jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbale-balik atas masalah yang timbul, baik secara vertical maupun horizontal ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional, dan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. Yang bertujuan agar pasien mendapatkan pertolongan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu sehingga jiwanya dapat terselamatkan, dengan demikian dapat menurunkan AKI dan AKB.

3.2 Saran
Dengan adanya sistem rujukan, diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu karena tindakan rujukan ditujukan pada kasus yang tergolong beresiko tinggi. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus memiliki kesiapan untuk merujuk ibu dengan keluhan ginekologi ke fasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu jika menghadapi penyulit.  




DAFTAR PUSTAKA

Meilani Niken dkk, 2009. Kebidanan Komunitas. Yogyakarta : Fitramaya Pedoman Asuhan Kebidanan Pada Kasus Rujukan Ibu Hamil, Bersalin, Nifas, dan BBL
 Pedoman Sistem Rujukan Maternal dan Neonatal di Tingkat Kabupaten/Kota POGI-JNPKKR. 2005. Buku Acuan Pelayanan Obstetri Neonatal dan Emergensi Dasar. Jakarta: Depkes RI.
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo Rustam, Muchtar. 1998 . Sinopsis Obstetri Fisiologi Patologi. Jakarta: EGC
Saifuddin, Abdul Bari, dkk,. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBPSP-MNH PROGRAM.
 Syafrudin & Hamidah, 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC
Varney, Helen. 1997. Varney’s Midwifery. Jakarta: EGC.